Ekonomi

Ramadhan di Pengungsian, Warga Tapsel Potong Sapi

prophetrock.com – Musibah banjir bandang yang menerjang Desa Huta Godang belum sepenuhnya berlalu. Warga masih bertahan di tenda pengungsian dengan fasilitas terbatas. Namun suasana berubah menjelang Ramadhan. Aroma daging yang dimasak menguar dari dapur darurat. Tawa anak-anak kembali terdengar di sela aktivitas memasak bersama.

Warga korban banjir di Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan, menyambut Ramadhan dengan cara sederhana namun bermakna. Mereka memotong sapi dan membagikan daging secara merata. Kegiatan itu dilakukan di area pengungsian dengan gotong royong. Peristiwa tersebut menjadi simbol kebersamaan di tengah pemulihan pascabencana.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyalurkan empat ekor sapi kepada warga terdampak. Bantuan itu ditujukan untuk meringankan beban kebutuhan pangan menjelang puasa. Warga dan aparat desa mengatur proses penyembelihan secara tertib. Mereka memastikan pembagian berjalan adil dan transparan.

Desa Huta Godang tercatat memiliki sekitar 500 kepala keluarga. Sebanyak 350 kepala keluarga beragama Islam. Sekitar 150 kepala keluarga beragama Kristen. Seluruh warga menerima bagian daging yang sama. Tidak ada pembedaan berdasarkan latar belakang agama.

Kepala desa setempat menegaskan prinsip kebersamaan tersebut. “Daging ini bukan untuk umat Islam saja. Semua warga dapat, kami bagi rata,” ujarnya. Pernyataan itu memperkuat pesan solidaritas di tengah situasi sulit. Warga sepakat bahwa musibah menyatukan mereka tanpa sekat.

Baca juga: “Pemerintah Tetapkan Ramadhan 2026 19 Februari”

Banjir bandang sebelumnya merusak sejumlah rumah dan fasilitas umum. Sebagian warga masih membersihkan sisa lumpur dari permukiman. Data pemerintah daerah mencatat ratusan warga sempat mengungsi. Sebagian rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat. Pemulihan infrastruktur masih berlangsung bertahap.

Di tengah proses itu, Ramadhan hadir membawa suasana berbeda. Warga memanfaatkan bantuan sapi untuk memasak hidangan sahur. Mereka mendirikan dapur bersama di dekat tenda pengungsian. Para ibu menyiapkan bumbu dan memasak secara bergantian. Para pria membantu proses penyembelihan dan distribusi daging.

Intan Silalahi, salah satu warga terdampak, merasakan langsung manfaat bantuan tersebut. Ia mengaku senang bisa memasak daging untuk sahur pertama. “Ini untuk sahur nanti. Walaupun di pengungsian seadanya, tapi bisa masak daging,” katanya. Wajahnya tampak sumringah saat menyiapkan masakan.

Bagi warga, bantuan itu bukan sekadar tambahan lauk. Mereka memaknainya sebagai bentuk perhatian pemerintah. Bantuan tersebut juga menjadi penguat semangat setelah kehilangan harta benda. Banyak keluarga masih menunggu perbaikan rumah. Sebagian lainnya masih bergantung pada logistik bantuan.

Pengamat kebencanaan menilai dukungan psikososial penting dalam masa tanggap darurat. Kegiatan bersama seperti memasak dan berbagi makanan membantu memulihkan kondisi mental. Interaksi sosial memperkuat rasa aman dan harapan. Momentum keagamaan sering menjadi penggerak solidaritas di tingkat lokal.

Di Huta Godang, nilai gotong royong memang telah lama hidup. Warga terbiasa saling membantu saat ada hajatan atau musibah. Tradisi itu kembali terlihat saat pembagian daging sapi. Mereka menyusun daftar penerima dan menghindari penumpukan. Proses berlangsung terbuka di hadapan warga.

Anak-anak juga ikut merasakan kebahagiaan sederhana. Mereka membantu membagikan kantong daging kepada tetangga. Suasana pengungsian terasa lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Meski fasilitas terbatas, kebersamaan menciptakan kenyamanan tersendiri.

Ramadhan tahun ini memang berbeda bagi warga Tapanuli Selatan. Banyak rumah belum sepenuhnya pulih. Aktivitas ekonomi warga masih terganggu. Namun semangat berbagi membuat beban terasa lebih ringan. Mereka memilih fokus pada kebersamaan daripada kesedihan.

Pemerintah daerah menyatakan akan terus memantau kebutuhan warga. Bantuan logistik dan perbaikan rumah masuk dalam prioritas penanganan. Aparat desa juga mengimbau warga menjaga kesehatan selama di pengungsian. Sanitasi dan ketersediaan air bersih menjadi perhatian utama.

Momentum Ramadhan di pengungsian menunjukkan ketahanan sosial masyarakat. Warga membuktikan bahwa solidaritas tidak luntur oleh bencana. Mereka menjaga persaudaraan lintas agama dalam situasi sulit. Sikap tersebut menjadi modal penting dalam proses pemulihan jangka panjang.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadhan juga mengajarkan kepedulian dan saling menguatkan. Di Desa Huta Godang, nilai itu hadir nyata di tengah pengungsian. Warga melangkah ke bulan suci dengan harapan baru. Mereka percaya kebersamaan akan membantu memulihkan kehidupan secara perlahan.

Baca juga: “BREAKING NEWS: Arab Saudi Umumkan 1 Ramadhan Jatuh pada Rabu 18 Februari 2026”

setnis

Share
Published by
setnis

Recent Posts

Satgas Anti Mafia Tanah Tindak Klaim Hercules di Tanah Abang

prophetrock.com  - Isu sengketa lahan di kawasan Tanah Abang kembali menjadi sorotan setelah muncul klaim…

15 hours ago

Polisi Tangkap Pria Depok Simpan 6 Kg Ganja di Rumah

prophetrock.com - Polisi Tangkap seorang pria asal Depok setelah kedapatan menyimpan narkotika jenis ganja seberat…

2 days ago

Klasemen Runner-up AFF U-17: Indonesia U-17 Turun ke 2

prophetrock.com  - Klasemen Runner-up terbaik Piala AFF U-17 2026 terjadi setelah laga Singapura U-17 melawan…

4 days ago

Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 2026 Tidak Dipotong Pajak

prophetrock.com - Bansos PKH Pemerintah memastikan bahwa bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan…

4 days ago

Banjir Besar di Arab Saudi, Sekolah Beralih ke Kelas Daring

prophetrock.com  - Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Arab Saudi setelah hujan deras mengguyur kawasan…

5 days ago

Total Harta Gatut Sunu Wibowo Menurut LHKPN

prophetrock.com - Total Harta Operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap…

7 days ago