Blatter Soroti Isu FIFA, Dukung Boikot Piala Dunia 2026

prophetrock.com – Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan dukungan terhadap seruan boikot Piala Dunia 2026.
Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Blatter menilai faktor keamanan menjadi perhatian utama bagi penggemar sepak bola.
Ia menyebut kekhawatiran itu cukup beralasan untuk dipertimbangkan secara serius.

Pernyataan tersebut disampaikan Blatter melalui media sosial.
Ia merespons pandangan pengacara antikorupsi asal Swiss, Mark Pieth.

“Saya pikir Mark Pieth benar mempertanyakan Piala Dunia ini,” tulis Blatter.
Pernyataan itu dikutip dari laporan The Guardian pada Selasa.

Baca juga: “MU Kalahkan Arsenal 3-2 Berkat Gol Matheus Cunha”

Dukungan terhadap Mark Pieth dan Seruan kepada Suporter

Mark Pieth dikenal sebagai pengacara antikorupsi internasional.
Ia pernah bekerja sama dengan FIFA dalam agenda reformasi kelembagaan.

Kerja sama tersebut berlangsung saat Blatter masih menjabat Presiden FIFA.
Pieth kini menjadi salah satu suara kritis terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Ia secara terbuka menyarankan suporter untuk tidak bepergian ke Amerika Serikat.
Menurutnya, risiko keamanan bagi penggemar cukup tinggi.

Blatter menyatakan sependapat dengan pandangan tersebut.
Ia menilai keselamatan suporter harus menjadi prioritas utama.

Meningkatnya Kekhawatiran Keamanan di Amerika Serikat

Dukungan Blatter muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik.
Kekhawatiran itu menguat setelah kabar meninggalnya warga Amerika Serikat, Alex Pretti.

Peristiwa tersebut terjadi pada akhir pekan lalu.
Ia menjadi warga negara Amerika Serikat kedua yang meninggal dalam insiden terpisah.

Meski tidak dijelaskan kaitannya langsung dengan Piala Dunia, kabar itu memicu kecemasan.
Isu keamanan kembali menjadi sorotan media internasional.

Blatter menilai situasi ini tidak boleh diabaikan oleh FIFA.
Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap pengunjung asing.

Jadwal dan Lokasi Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli.
Turnamen ini akan menjadi edisi pertama dengan 48 peserta.

Amerika Serikat menjadi tuan rumah utama pertandingan.
Kanada dan Meksiko turut menggelar sebagian laga.

Penyelenggaraan bersama ini diharapkan memperluas jangkauan sepak bola global.
Namun, tantangan keamanan lintas negara menjadi isu tersendiri.

Kapasitas penonton diperkirakan mencapai jutaan orang.
Sebagian besar suporter diprediksi berasal dari luar Amerika Utara.

Pieth Kritik Situasi Politik dan Sosial Amerika Serikat

Dalam wawancara dengan harian Swiss Tages-Anzeiger, Pieth menguraikan kekhawatirannya.
Ia menyoroti kondisi politik dan sosial Amerika Serikat.

Pieth menilai situasi domestik tidak kondusif bagi penggemar internasional.
Ia menyebut adanya marjinalisasi lawan politik dan ketegangan sosial.

Selain itu, Pieth menyoroti peran otoritas imigrasi Amerika Serikat.
Ia menyebut adanya dugaan penyalahgunaan wewenang.

“Untuk para penggemar, satu saran saja: hindari Amerika Serikat,” kata Pieth.
Ia menyarankan menonton pertandingan melalui televisi.

Risiko Deportasi dan Ketidakpastian bagi Suporter

Pieth juga mengingatkan risiko hukum bagi pengunjung asing.
Ia menyebut kemungkinan deportasi tetap terbuka.

Menurutnya, suporter bisa dipulangkan jika dianggap melanggar aturan.
Penilaian tersebut sepenuhnya berada di tangan otoritas setempat.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi calon penonton.
Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan semangat festival sepak bola.

Blatter menilai kekhawatiran itu tidak berlebihan.
Ia mendukung pendekatan kehati-hatian bagi penggemar.

Latar Belakang Blatter dan Dinamika FIFA

Sepp Blatter mengundurkan diri dari jabatan Presiden FIFA pada 2015.
Pengunduran diri itu menyusul berbagai skandal tata kelola organisasi.

Posisi Blatter kemudian digantikan oleh Gianni Infantino.
Infantino hingga kini masih menjabat sebagai Presiden FIFA.

Infantino diketahui memiliki hubungan dekat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kedekatan tersebut kerap menjadi sorotan publik.

Hubungan itu juga memicu kritik dari sejumlah pihak.
Beberapa pengamat menilai FIFA terlalu dekat dengan kekuasaan politik.

Kasus Hukum Blatter dan Platini Telah Diselesaikan

Pada tahun lalu, Blatter menghadapi proses hukum panjang.
Kasus tersebut terkait pembayaran tertunda kepada Michel Platini.

Pembayaran sebesar dua juta franc Swiss dilakukan FIFA pada 2011.
Dana tersebut disebut sebagai kompensasi jasa konsultasi.

Blatter dan Platini akhirnya dibebaskan secara definitif.
Putusan tersebut menutup salah satu kasus besar dalam sejarah FIFA.

Meski demikian, reputasi Blatter tetap kontroversial.
Pernyataannya masih menarik perhatian publik sepak bola dunia.

Dukungan Blatter terhadap seruan boikot menambah tekanan bagi FIFA.
Isu keamanan kini menjadi agenda penting jelang turnamen.

FIFA diharapkan memberikan jaminan keselamatan bagi suporter.
Transparansi dan koordinasi lintas negara menjadi kunci utama.

Piala Dunia 2026 memiliki potensi ekonomi dan olahraga besar.
Namun, kepercayaan publik harus dijaga secara serius.

Jika kekhawatiran tidak ditangani, minat penonton bisa menurun.
Situasi tersebut dapat memengaruhi citra turnamen secara global.

Ke depan, FIFA dituntut memastikan Piala Dunia tetap aman dan inklusif.
Keputusan suporter akan sangat bergantung pada jaminan tersebut.

Baca juga: “FIFA Terancam Bangkrut jika Piala Dunia 2026 Batal, Begini Kata Pakar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *